PASMANTAP (PASKIBRA KECAMATAN ASTANAJAPURA)
TAHA
Gemuruh teriakan dan jeritan riuh memekakan telinga dipadang rumput itu. Padang rumput yang kelabu karena tertimpa sinar pucat rembulan yang muram. Muram melihat kejadian dibawahnya. Mayat bergelimangan seperti botol kecap yang tiarap dan tutupnya terbuka, mengalirkan darah kental ditanah. Darah dari mayat Syuhada’ dan para kompeni keparat itu.Meskipun hanya bersenjata seadanya -parang, celurit, sundu bahkan bambu kuning yang diruncingi ujung-ujungnya-, para pahlawan pertiwi berseragam hijau kacang kapri itu, menggempur kompeni – kompeni itu tanpa ampun. Semangat berkobar-kobar. Prajurit-prajurit kompeni kewalahan. Terdesak.
Seorang jejaka pribumi bertempur dengan sangat hebat. Membabat setiap kompeni dihadapannya. Kocar–kacir prajurit kompeni dibuatnya. Namun, seorang kompeni sedang membidiknya. Dan ” Dar….” peluru meroket. ” Allahuakbar….” peluru itu menelusup pas dijantung jejaka itu. Berhenti. Detak jantung merah putih itu berhenti. Mati.
Kemudian semuanya gelap. Semu.
***
Aku terbangun dari tidurku. Nafasku terpacu seperti habis maraton. Keringat membanjiri kulitku. ” Astagfirullahaladzim…” desahku.
Ali, teman sebangkuku, memandangku heran ” kenapa Bar? Mimpi itu lagi? ” tanyanya.
Aku mengangguk. Sungguh aneh. Aku selalu memimpikan peristiwa itu. Dan selalu terjadi pada tanggal 1O November. Mulai dari bulan pertama aku masuk Madrasah Aliyah ini sampai sekarang, sampai bahkan aku mendekati UAN.
Kuarahkan pandanganku ke sekitar penjuru kelas. Suasana ramai. Ada yang ngobrol, bergosib, bahkan tidur. Sementara kepalaku masih terasa pening karena mimpi itu. Setelah agak baikan karena telah kupijit– pijit pada bagian kening, aku memandang jam dinding kelas. Baru pukul 09:30. Kemudian, kualihkan pandanganku keluar jendela -kebetulan bangkuku terletak didekat jendela lantai dua-. Rupanya orang itu belum ada. Orang yang kata teman–temanku sinting, dan akupun beranggapan demikian, yang selalu berdiri tegak didepan tiang bendera sambil hormat setiap tanggal 10 November. Dan sekarang tanggal 10 November.
” Bar, berhenti melamunnya. Tuh, Bu Ida sudah datang” kata Ali kepadaku.
” Selamat pagi anak – anak. Ibu minta maaf terlambat datang karena tadi ada sedikit masalah dikantor. Sekarang buka halaman 112. Fungsi limit…..”
Sebelum aku membuka bukuku, sekali lagi aku memandang keluar jendela. Orang yang aku maksud sudah berdiri tegak didepan tiang bendera sambil hormat.
***
Para siswa dan guru tiada lagi. Tinggal aku, Ali dan orang gila itu. Aku memang sengaja menunggu momen ini. Aku sangat penasaran dengan orang gila itu. Siapa namanya ? Dimana rumahnya ? Mengapa dia rela berpanas–panasan hanya untuk hormat pada tiang bendera itu ? Padahal hari ini bukan tanggal 17 Agustus, lalu mengapa harus tanggal 10 November ?
Aku mengajak Ali mendekati orang gila itu. Ali bergeming.
” Ayolah kawan. Apakah kamu ingin melihat aku tidak bisa tidur karena rasa penasaran ini? ” rengekku kepada Ali.
” Akbar, kadang–kadang rasa penasaran kita bisa membunuh kita juga ” kata Ali sok bijaksana.
” Aku kemungkinan tidak akan mati hanya karena menemui orang gila itu dan bercakap– cakap dengannya ” protesku.
Ali menggeleng-geleng melihatku, seakan aku telah menjadi sinting karena diputus pacar. Kurang ajar betul.
” Percuma saja, Bar ” kata Ali ” orang gila itu tidak akan mempedulikanmu. Pak kepala Madrasah, pak Bambang, pak Sahal sampai pak Mustaqim si tukang kebun saja tidak mampu membuat orang gila itu mengucap sepatah katapun. Mungkin orang itu bisu ”.
Namun, rasa ingin tahu telah membuatku keras kepala, ” apa salahnya dicoba ” kataku.
Dan mau tidak mau kugelandang Ali mendekati orang gila itu. Ali mengikutiku setengah hati, ragu–ragu, kini aku dan Ali berada dibelakangnya. Sebelumnya, aku belum pernah berada sedekat ini dengannya. Tentu saja, aku ada sedikit rasa takut.
” Permisi….” kataku kepada orang gila itu.
Tidak ada balasan.
” permisi “ kataku lagi.
Masih tidak ada balasan. Kujawil pundaknya karena aku merasa jengkel. Dia balik kanan, menghadap kepadaku dan Ali. Minder. Aku melengos iba.
” MasyaAllah….’’ ujarku dalam hati “ orang gila ini ternyata masih muda. Namun dia, hanya terbalut baju compang–camping, debu tebal melapisi kain dan kulitnya dan ada bekas–bekas cat atau apalah itu. Dan wajahnya, penuh bekas luka ”.
Sebelum aku berkata sepatah katapun, orang gila itu -atau lebih lembutnya aku sebut, pria muda- menurunkan tangannya, merogoh kedalam kantong celananya. Aku was-was, begitu juga Ali.
” Apa yang sedang dia cari? ” bisik Ali.
” Entahlah, aku juga tidak tahu…..” kataku, berbisik. Aku dibuat penasaran oleh orang gila itu.
Aku yakin, dalam kantong celananya yang ciut itu tidak ada apa-apa. Namun, ajaib! Sungguh aku tidak menyangka kalau didalam kantong celananya ada bendera merah putih. Yeah, dia mengeluarkan bendera merah putih. Dan aku heran tak terkira, orang gila ini memberikan bendera merah putihnya kepadaku.
” Ambillah ” katanya dalam suara berat dan serak.
Aku dan Ali mengamati bendera merah putih itu, yang kini berada diatas tanganku. Kainnya lusuh, banyak robekan-robekan kecil dan warna merahnya luntur menjadi pink. Namun, bendera itu seperti mengeluarkan aura yang aku sendiri tidak bisa menafsirkannya. Aku mendongak untuk bertanya mengapa orang ini memberikan bendera merah putihnya kepadaku. Namun, aku malah termangu dalam tanda tanya besar. Orang gila itu sudah tidak ada.
***
Malamnya, kutaruh bendera merah putih menyedihkan itu diatas meja belajar. Kupandangi terus benda itu. Sementara udara dingin masuk melalui jendela kamarku, pikiranku berkecamuk dalam ketidak pahaman. Dan semakin lama aku menatap bendera itu, semakin aku merasakan sesuatu yang lain. Bendera itu seperti merasakan kepergian yang tidak terucap.
Tiba-tiba sesuatu terjadi, secara misterius kata demi kata terangkai, tertoreh diatas bendera merah putih lusuh itu, kian menjadi sajak puisi yang mengiris ulu hatiku. Dan dengan apa sajak itu ditulis?, hal ini membuat hatiku bergetar hebat. Darah! Bayangkan!! dengan darah.
Aku membaca puisi itu…
Malam itu….
Malam itu ramai…..
Bukan karena kukuk – kukuk burung hantu
Bukan juga karena lolongan kawanan serigala kelaparan
Tetapi karena perang
Merah putih berkibar – kibar diudara
Orang – orang berteriak ” Negeri kita harus bebas, Allahuakbar…..”Dan sekuat tenaga ku penggal leher para penjajah itu.
Dan kini, merdekalah tanah kita
Soekarno-hatta telah mengumumkannya
Namun aku masih terseok dan tertatih
Hari ini….
Gedung-gedung menjulang tinggi
Hotel-hotel berbintang disana-sini
Pasar Swlayan memabukkan pemuda pemudi
Bioskop, Stadion dan jalan-jalan layang beranak
Bersama…..
Manipulasi, kolusi, korupsi, monopoli
Aku merintih…..
Aku menangis……..
Tak ada yang mengenal lagi
Tak ada yang peduli lagi
Pahlawan tanpa nama seperti diriku inI
Yang kini tiada lagi
Setelah sebutir peluru itu menjatuhkanku
Dalam medan tempur itu
Aku telah melayang
Dalam sejarah berdebu
Demi dirimu
Kurelakan jiwa ragaku
Agar engkau bebas
Merdeka
Wahai negaraku
Demi tanah airku
Setelah membaca puisi diatas merah putih itu, aku menunduk seperti orang yang sedang mengheningkan cipta saat upacara. Entah bagaimana aku tahu, namun kini semuanya jelas. Orang gila itu adalah jejaka yang mati dibedil kompeni dalam mimpiku itu. Berarti peristiwa dalam mimpiku itu adalah peristiwa nyata. Dan sekolahku adalah bekas medan pertempuran dalam mimpiku. Dan peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 November. Namun mengapa harus aku yang dipilih untuk mengetahui semua ini ?
Jawabannya perlahan muncul. Dibawah sajak puisi itu tertoreh sebuah nama.
RAHAYU
Aku tahu nama siapa itu. Nama nenekku. Tanpa ba-bi-bu lagi, kuambil bendera itu, laluku masukkan kedalam tas cangklong hitamku. Segera aku pergi kerumah paman di desa sebelah. Nenek Rahayu tinggal bersama paman. Usianya sudah udzur 70 tahun. Sementara kakek sudah lama meninggal. Dalam usia 60 tahun.
Kulihat nenek sedang duduk dikursi goyang sambil mendendangkan lagu “ gambang suling “ Nenek memang suka sekali dengan lagu-lagu tradisional.
Aku sebenarnya kurang begitu suka dengan lagu semacam itu. Namun, kalau nenek Rahayu yang menyanyikannya, maka aku akan terbawa dalam alunan lagu itu seperti mendengarkan musik pop kesukaanku.
Namun, kedatanganku kesini bukan untuk meminta dinyanyikan nenek. Segera aku menemui nenek, kuucapkan salam, kukecup tangannya, kuambil bendera merah putih itu dari dalam tas cangklongku, Kuserahkan kepada nenek.
Nenek tampak terkesiap. Mata dibalik kacamatanya memandang bendera itu. Mulutnya tertutup diam, yang terjadi kemudian adalah hening.
Dan perlahan, sebutir air jatuh dari pelupuk mata nenek. Membasahi pipi nenek yang keriput. Dipeluknya bendera itu, seolah-olah bendera itu adalah sesuatu yang dirindukan nenek semasa hidupnya. Semakin deras air mata terjatuh.
” Dia berjanji akan menikahiku setelah pulang dari perang itu. Namun dia tidak menepatinya. Dia pulang tanpa nyawa, dan aku bangga kepadanya, dia rela berkorban membela bangsa dan negara. Dia lelaki tangguh ” kata nenek, rindu, mengenang ” Mas Jaka, aku selalu mencintaimu. Dan aku tahu sampeyan juga mencintaiku ”.
***
Besok paginya. Aku menggali lubang didepan tiang bendera sekolahku. Kupendam bendera merah putih itu. Kemudian, aku mendoakan pemilik bendera merah putih itu. Dan aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya demi bangsa ini. Aku akan lebih giat belajar supaya bisa berguna bagi bangsa tercinta ini.
***
10 November berikutnya, tidak ada lagi yang pernah melihat orang gila atau pemuda compang camping atau pahlawan itu berdiri didepan tiang bendera sambil hormat.



Mantap eUy....
BalasHapusiya donkkkkk
BalasHapus