Syabab.Com - Memalukan, demikian realitas anak negeri ini akibat sekularisme yang telah mencengkram mereka. Baru-baru ini, menjelang peringatan Kemerdekaan negeri ini, terungkap potret keborokan sebagian pelajar. Mungkin menjadi Paskibra menjadi kebanggaan sebagian pelajar di negeri ini. Tetapi apa yang harus dibanggakan ketika realitas noda paskibra tersingkap. Baru-baru ini terungkap adanya tindakan pelecehan seksual dan kekerasan yang menimpa para pelajar dalam paskibra oleh senior terhadap yuniornya.
Di dalam sistem sekuler--pemisahan islam dari hidup--, peluang perusakkan generasi sangat rentan. Bahkan hal itu terjadi terkadang tersistemetis. Fakta terkait hal ini dapat dilihat di dunia nyata.
Sebut saja, Paskibra, yang dianggap sebagai kelompok elit pengibar bendera, tetapi malah miskin moral. Senioritas memang ciri yang sangat melekat dalam perhimpunan pengibar bendera ini.
Atas nama kedisiplinan dan ketundukan kepada senior, para yunior terjajah hak-haknya untuk dipaksa mengikuti apa pun yang disuruh seniornya. Tanpa pengawasan dari pihak berwenang, tentu hal tersebut sangat berpotensi untuk melakukan tidakan amoral. Terlebih lagi, kerusakkan moral generasi muda hari berada pada titik nadhir yang sangat memprihatinkan.
Ini terbukti, seperti diberitakan oleh beberapa media, diduga selama proses pelatihan dan seleksi tim paskibra DKI Jakarta di Depok, senior melakukan tindakan pelecehan terhadap yuniornya.
Beberapa orang senior dalam Paskibraka wilayah DKI Jakarta, yang sedang dalam tugas melatih serta mengospek Paskibraka Junior Wilayah DKI, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap Junior Wanita.
Mereka, para Paskibraka senior didatangi para orang tua dari Paskibraka yunior wanita tersebut dan memarahi serta memprotes mereka. Para orang tua menyesalkan adanya tindakan yang tidak terpuji serta pelecehan yang dilakukan para senior tersebut.
Pada saat berada di rumah pelatihan Paskibraka di daerah Cibubur, para Paskibraka Junior wanita mengaku disuruh telanjang dari kamar ke tempat mandi dan ini selalu dilakukan selama pembinaan yang dilakukan pada bulan Juli 2010 lalu. "Ini yang kami takutkan melanggar moral," ujar A. Ritonga, salah seorang ortu tim paskibra yunior.
Sebut saja, Paskibra, yang dianggap sebagai kelompok elit pengibar bendera, tetapi malah miskin moral. Senioritas memang ciri yang sangat melekat dalam perhimpunan pengibar bendera ini.
Atas nama kedisiplinan dan ketundukan kepada senior, para yunior terjajah hak-haknya untuk dipaksa mengikuti apa pun yang disuruh seniornya. Tanpa pengawasan dari pihak berwenang, tentu hal tersebut sangat berpotensi untuk melakukan tidakan amoral. Terlebih lagi, kerusakkan moral generasi muda hari berada pada titik nadhir yang sangat memprihatinkan.
Ini terbukti, seperti diberitakan oleh beberapa media, diduga selama proses pelatihan dan seleksi tim paskibra DKI Jakarta di Depok, senior melakukan tindakan pelecehan terhadap yuniornya.
Beberapa orang senior dalam Paskibraka wilayah DKI Jakarta, yang sedang dalam tugas melatih serta mengospek Paskibraka Junior Wilayah DKI, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap Junior Wanita.
Mereka, para Paskibraka senior didatangi para orang tua dari Paskibraka yunior wanita tersebut dan memarahi serta memprotes mereka. Para orang tua menyesalkan adanya tindakan yang tidak terpuji serta pelecehan yang dilakukan para senior tersebut.
Pada saat berada di rumah pelatihan Paskibraka di daerah Cibubur, para Paskibraka Junior wanita mengaku disuruh telanjang dari kamar ke tempat mandi dan ini selalu dilakukan selama pembinaan yang dilakukan pada bulan Juli 2010 lalu. "Ini yang kami takutkan melanggar moral," ujar A. Ritonga, salah seorang ortu tim paskibra yunior.
Tentu saja, para orang tua yang puterinya baru saja dilantik memprotes keras atas tindakan anarkis para senior paskibra itu. Hal ini dipicu oleh tindakan pelecehan seksual dan kekerasan paskibra senior terhadap yuniornya.
Perusakkan Generasi Menyusup di Sekolah
Ini baru yang terungkap oleh media, yang tidak terungkap bisa jadi lebih banyak lagi hal-hal yang dapat mengancam generasi negeri ini.
Memang, Paskibra sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah seringkali menuia masalah, terutama bagi generasi puteri Muslim. Atas nama keseragaman, para pelajar puteri Paskibra yang berkerudung dipaksa untuk melepaskan kerudungnya.
Beberapa tahun lalu, di Kediri, Kepala Dinas Pendidikan setempat mengakui telah meminta lima siswi MAN 3 Kota Kediri untuk melepaskan jilbab saat mengikuti seleksi Paskibra dengan alasan keseragaman.
Kadiknas Maki Ali menjelaskan, ketentuan melepaskan jilbab tersebut sudah menjadi ketentuan yang ditetapkan panitia penjaringan pusat.
"Bagaimana lagi wong aturannya demikian. Pelepasan jilbab itu untuk menjaga keseragaman penampilan pasukan pengawal bendera," ujar Maki Ali (detikNews, 2/5/2007).
Bukan hanya dalam pengibaran bendera saja, dalam beberapa perlombaan, Paskibra terkadang memaksa generasi Muslimah melepaskan kerudungnya, sehingga mereka harus mengumbar aurat. Semuanya atas nama keseragaman. Padahal, menutup aurat sudah menjadi kewajiban sebagai bentuk ketaatan seorang Muslimah terhadap perintah Sang Pencipta negeri ini.
Perusakkan Generasi Menyusup di Sekolah
Ini baru yang terungkap oleh media, yang tidak terungkap bisa jadi lebih banyak lagi hal-hal yang dapat mengancam generasi negeri ini.
Memang, Paskibra sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah seringkali menuia masalah, terutama bagi generasi puteri Muslim. Atas nama keseragaman, para pelajar puteri Paskibra yang berkerudung dipaksa untuk melepaskan kerudungnya.
Beberapa tahun lalu, di Kediri, Kepala Dinas Pendidikan setempat mengakui telah meminta lima siswi MAN 3 Kota Kediri untuk melepaskan jilbab saat mengikuti seleksi Paskibra dengan alasan keseragaman.
Kadiknas Maki Ali menjelaskan, ketentuan melepaskan jilbab tersebut sudah menjadi ketentuan yang ditetapkan panitia penjaringan pusat.
"Bagaimana lagi wong aturannya demikian. Pelepasan jilbab itu untuk menjaga keseragaman penampilan pasukan pengawal bendera," ujar Maki Ali (detikNews, 2/5/2007).
Bukan hanya dalam pengibaran bendera saja, dalam beberapa perlombaan, Paskibra terkadang memaksa generasi Muslimah melepaskan kerudungnya, sehingga mereka harus mengumbar aurat. Semuanya atas nama keseragaman. Padahal, menutup aurat sudah menjadi kewajiban sebagai bentuk ketaatan seorang Muslimah terhadap perintah Sang Pencipta negeri ini.
Kasus lainnya, ketika para anggota tersebut terdiri dari putera dan puteri, campur baur atau ikhtilath kerap kali mewarnai. Inilah sekali lagi bukti, sistem sekularisme, yakni pemisahan Islam dari kehidupan telah menyebabkan generasi Muda Muslim terancam. Kegagalan pembinaan tersebut telah terbukti menuai perilaku tak bermoral.
Hari ini, kita menyadari serangan untuk merusak generasi muda Muslim terus menerus terjadi. Bila dibiarkan, maka tinggal menunggu waktu saja akan kehancuran negeri ini.
Berbeda halnya, bila sistem Islam menjadi landasan kehidupan, maka tidak akan ada pelecehan seksual dan kekerasan yang menimpa generasi. Tidak seperti dalam sistem sekuler, generasi berani berdosa hanya untuk keseragaman.
Sudah saatya, kaum Muslim menyelamatkan generasi muda mereka dengan Islam saja. Karena hanya dengan pembinaan secara Islam, maka perbuatan nista tersebut tak akan terjadi. Demikian juga, para pemegang kebijakan dan orang tua sudah sepatutnya kembali kepada tatanan Islam. [far/rcti/okezn/dtk/syabab.com]
Hari ini, kita menyadari serangan untuk merusak generasi muda Muslim terus menerus terjadi. Bila dibiarkan, maka tinggal menunggu waktu saja akan kehancuran negeri ini.
Berbeda halnya, bila sistem Islam menjadi landasan kehidupan, maka tidak akan ada pelecehan seksual dan kekerasan yang menimpa generasi. Tidak seperti dalam sistem sekuler, generasi berani berdosa hanya untuk keseragaman.
Sudah saatya, kaum Muslim menyelamatkan generasi muda mereka dengan Islam saja. Karena hanya dengan pembinaan secara Islam, maka perbuatan nista tersebut tak akan terjadi. Demikian juga, para pemegang kebijakan dan orang tua sudah sepatutnya kembali kepada tatanan Islam. [far/rcti/okezn/dtk/syabab.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar